Ambil nilai sahut-sahutan puisi
Jam pelajaran pertama Bahasa Indonesia, kata bu guru hari ini ambil nilai sahut-sahutan puisi.
Katanya anak-anak bernomor ganjil akan membacakan puisi milik Rendra, Chairil Anwar, Sapardi dan Taufiq Ismail.
Sementara yang bernomor genap menyahutnya dengan puisi merek sendiri.
Cilaka tiga belas!
Yang bener aja coba?!
Puisi cinta w aja bikin w ditolak cewek, lagipula om-om penyair di atas apa bisa menerima keteledoran gua dalam membuat puisi?
Keringat dingin bawa petaka, gua dapet giliran pertama
Anjrotz!!!
Ya sudahlah…
Nasib orang kecil, dikorbankan selalu tanpa pikir-pikir, semudah mengambil kocokan arisan.
Bagaimana Kalau, itu puisinya
Pucat gitu muka gua pas maju
Mode konyol On!
1… 2… 3…
Taufig Ismail
Temanku: Bagaimana kalau dulu bukan khuldi yang dimakan Adam, tapi buah alpukat,
Aku: Adam dan Hawa hidup bahagia di Surga, dan gak perlu menderita di bumi, oh ya alpukat buah kesukaan gua loh
Temanku: Bagaimana kalau bumi bukan bulat tapi segi empat,
Aku: Gampang dihitung! Cuma sisi kali sisi luas Bumi berarti.
Temanku: Bagaimana kalau lagu Indonesia Raya kita rubah, dan kepada Koes Plus kita beri mandat,
Aku: Bukan Lautan Tapi Kolam Susu
Temanku: Bagaimana kalau ibukota Amerika Hanoi, dan ibukota Indonesia Monaco,
Aku: Ameriak mah no problem mau di mana aja, nah kita ini, asik kan di Monaco sekalian nonton F1, daripada di Jakarta, gupeknya minta ampun dah!
Temanku: Bagaimana kalau malam nanti jam sebelas, salju turun di Gunung Sahari,
Aku: Ayo kita main ski!
Temanku: Bagaimana kalau bisa dibuktikan bahwa Ali Murtopo, Ali Sadikin dan Ali Wardhana ternyata pengarang-pengarang lagu pop,
Aku: Download dong! Setengah jam rampung!
Temanku: Bagaimana kalau hutang-hutang Indonesia dibayar dengan pementasan Rendra,
Aku: Baguslah, seni sastra buat bayar hutang
Temanku: Bagaimana kalau segala yang kita angankan terjadi, dan segala yang terjadi pernah kita rancangkan,
Aku: Tidak ada kegagalan di muka bumi, Indonesia jadi superpower deh!
Temanku: Bagaimana kalau akustik dunia jadi sedemikian sempurnanya sehingga di kamar tidur kau dengar deru bom Vietnam, gemersik sejuta kaki pengungsi, gemuruh banjir dan gempa bumi sera suara-suara percintaan anak muda, juga bunyi industri presisi dan margasatwa Afrika,
Aku: Guanya yang gak bisa tidur, berisik tahu!
Temanku: Bagaimana kalau pemerintah diizinkan protes dan rakyat kecil mempertimbangkan protes itu,
Aku: Apa iya? Rakyat kecil protes aja pura-pura budek pemerintahanya, boro-boro ditimbang
Temanku: Bagaimana kalau kesenian dihentikan saja sampai di sini dan kita pelihara ternak sebagai pengganti
Aku: Ogah! Jijik ah miara-miara sapi, tainya itu loh, tapi buat-buat tambahan deh terpaksa, kesenian juga gak dianggep lah
Temanku: Bagaimana kalau sampai waktunya kita tidak perlu bertanya bagaimana lagi.
Aku: Malu bertanya sesat di jalan, Derita Lo Blo’on!
Night Raven
6/12/2010 8:55:19 AM